28 August 2009

Kesaksian ex YASINDO - Pdt. Paulus Jumari

Pdt. Paulus Djumari

Yasindo Cabang Madiun


“Yang Dulu Biarlah Berlalu Karena Yang Baru Sudah Datang”


Aku dilahirkan sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara di sebuah kota kecil di daerah Jawa Timur. Orang menyebut kota itu adalah kota Reog, kota yang identik tempat tinggalnya para Warog. Sebagai anak paling bungsu dalam keluargaku, aku tidak pernah kekurangan. Kasih sayang dan materi selalu tercukupi. Namun, apa yang kudapatkan dari keluarga, tidak pernah membuatku merasa puas. Tepat di usia 21 tahun, aku melarikan diri dari rumah orang tuaku, dengan tujuan untuk mencari kebebasan yang lebih lagi. Kota Magelang yang terletak di Jawa tengah menjadi tujuanku.


Di kota Magelang ini, aku mendapatkan sebuah lingkungan yang baru. Lingkungan yang berisi anak-anak berandalan yang tidak mempunyai belas kasihan dalam kehidupannya. Kehadiranku diterima dengan baik oleh teman-teman baruku, aku menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mereka.


Dari teman-teman “gangku”, aku mengenal dan akhirnya terperangkap dalam dunia kejahatan. Satu tahun aku bergabung dengan mereka, kejahatan demi kejahatan terus kami lakukan. Mencuri, merampok, dan membunuh adalah kegiatan kami. Kami melakukannya tanpa memiliki rasa belas kasihan. Setelah berulang kali kami lakukan, akhirnya tertangkaplah aku dan teman-teman oleh pihak berwajib, maka berakhirlah petualanganku di dunia kejahatan. Dengan tiga dakwaan berlapis, aku di vonis hukuman 14 tahun penjara. Aku harus mendekam di balik terali besi jauh dari keluarga. Di situlah aku baru merasakan penyesalan yang sangat dalam tetapi nasi telah menjadi bubur. Setiap hari yang bisa aku lakukan adalah meratapi nasibku.


Meski kedua orang tuaku tidak mengetahui semua yang aku lakukan di kota ini, namun pada kenyataannya ada sepasang mata yang selalu mengawasi apa yang ku perbuat. Dia pulalah yang mengijinkan aku dibawa ke balik terali besi ini.


Suatu ketika di buanglah aku ke LAPAS Nusakambangan, dan ditempat itulah akhirnya Tuhan mengulurkan tanganNya melewati secarik kertas yang lusuh dan robek di lantai sebelah kamarku. Ada dorongan kuat di dalam hatiku untuk mengambil kertas tersebut. Di kertas tersebut terdapat sebuah tulisan yang berbunyi “Serahkanlah penderitaanmu kepadaNya.” Dan di dalam hati aku berpikir siapakah yang dimaksud dengan kata “Nya” ini? Dalam selku, siang malam kurenungi dalam-dalam setiap kata yang tertulis dalam secarik kertas lusuh itu. Akhirnya ada suatu niat yang muncul dalam hatiku untuk mencari jawaban dengan cara mengikuti kebaktian digereja yang selama ini tidak pernah aku ikuti.


Firman Tuhan yang aku dengar setiap ibadah sepertinya tidak mau hilang dari ingatanku. Sebuah kata yang terdapat dalam Firman Tuhan “yang dulu biarlah berlalu karena yang baru sudah datang,’ sangat berkesan bagiku serta memberikan kelegaan bagiku. Akhirnya aku mulai sadar bahwa apa yang telah aku lakukan itu dosa. Saat itu aku semakin percaya, ada rencana Tuhan yang baru dan indah dalam diriku sehingga membuat diriku semakin bertumbuh di dalam Kristus.


Pada tahun 1980 aku di bebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan. Saat itu hatiku berbunga-bunga karena ingin segera menemui seorang hamba Tuhan di kota Ungaran yang pernah melayaniku sewaktu di dalam penjara. Setelah kedatanganku di kota Ungaran, aku bergabung dengan Yayasan Tim Pelayanan Kasih. Yayasan ini bergerak dalam pelayanan penjara serta masyarakat yang tertolak. Di situ aku belajar tentang kekristenan dan pelayanan, iman ku pun semakin bertumbuh.


Tahun 1989 aku mulai dilepas untuk bisa mandiri melayani Tuhan di kota Madiun. Di kota yang dekat dengan kota kelahiranku. Dan tepat satu tahun kemudian aku dihadapkan pada sebuah pelayanan yang sama sekali belum pernah aku alami dan aku pikirkan. Aku bertemu dengan seorang mantan narapidana yang berasal dari kota Banyuwangi. Orang tersebut setelah bebas dari Lembaga Pemasyarkatan, tidak diterima oleh keluarganya, karena menderita TBC Kronis.


Disaat itu aku berdoa memohon pimpinan Tuhan untuk apa yang aku hadapi. Tiba-tiba muncullah suatu keberanian di dalam hatiku untuk membawa orang tersebut ke rumah sakit. Pada saat itu aku tidak tahu bagaimana nantinya membayar biaya rumah sakit, karena pada saat itu aku sendiripun tidak memiliki banyak uang. Tapi aku berprinsip, aku harus melakukan perintah Tuhan yang diberikan padaku. Sampai akhirnya melalui pelayanan ku setiap hari selama di Rumah Sakit, orang tersebut menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat di hari-hari terakhirnya.


Setelah beberapa hari ia mengenal Tuhan, berpulanglah ia dengan tenang di tanganku. Saat itu aku berpikir apa yang harus aku lakukan lagi Tuhan? Pada saat aku ingin membawa jenasah untuk pulang dari rumah sakit, tiba-tiba kepala dokter di RSUD mencari aku. Sungguh ajaib melalui dokter itu kuasa Tuhan terjadi, pertolongannya tepat pada waktunya, karena semua biaya rumah sakit telah dibebaskan, bahkan aku mendapatkan sebuah peti mati untuk membawa jenasah tersebut. Semua itu atas pertolongan Tuhan melalui hambanya kepala dokter di RSUD Soedono Madiun.


Pada Tahun 2000, melalui kasih Tuhan Yesus Kristus, aku dipertemukan lagi dengan seorang hamba Tuhan, Alm Bapak Amtoni Taniara, ketua Yasindo Jakarta. Melalui pertemuan ini akhirnya aku bergabung dengan Yasindo, karena aku berpikir bahwa tujuan pelayanan kami sama yaitu ingin nama Tuhan dipermuliakan melalui pelayanan penjara dan mantan narapidana.


Melalui Yasindo aku mendapatkan berkat sarana pelayanan sebuah sepeda motor dari gereja GBI Sangkakala. Dan sampai sekarang aku tetap melayani Tuhan dengan penuh semangat mesti rintangan serta cobaan hidup semakin berat. Inilah kesaksian hidupku. Bantu di dalam doa untuk pelayanan penjara di kota Madiun, lewat sarana dan prasarana. Serta juga bantu doa untuk anak binaan kami yang akan masuk sekolah Alkitab bulan Agustus nanti. Semoga pelayanan Yasindo di kota Madiun makin berkembang.


KESAKSIAN ex Yasindo - NELSON SITOMPUL S.P.A.K.

NELSON SITOMPUL S.P.A.K.

GEREJA OIKUMENE Meliau, Kalbar.


“HIDUP DALAM TUHAN YESUS MENJADI BERARTI.”


Aku berasal dari keluarga bahagia dengan delapan bersaudara, 4 laki-laki dan 4 perempuan, dan kami semua bersekolah. Awal kehancuran keluarga kami terjadi pada tahun 1988, di awali dengan sakitnya mama. Segala usaha telah dilakukan keluarga dengan membawa berobat kerumah sakit di Medan, Jakarta sampai ke Singapura, namun kesehatan mama tak kunjung sembuh, sampai akhirnya mama meninggalkan kami semua di akhir tahun 1989.


Sepeninggalnya mama kami, keluarga yang tadinya hidup harmonis berubah menjadi berantakan. Kakak- kakakku semua meninggalkan rumah, dan tinggallah aku beserta adikku yang tetap menjadi penghuni rumah kami. Tidak berapa lama setelah kejadian itu, aku beserta adikkupun meninggalkan kampung halaman, karena saudara dari pihak ibu membawa kami ke Jakarta. Di Jakarta kami disekolahkan hingga tamat Sekolah Menengah Pertama.


Kebebasan yang aku alami pada saat aku masih berada bersama orang tuaku, tidak lagi kudapatkan di rumah saudaraku. Saat itu aku memberontak, sampai pada akhirnya aku meninggalkan rumah saudara secara diam-diam dan hidup di jalanan untuk mempertahankan kelangsungan hidupku, akibatnya selama satu tahun aku menjadi gelandangan.


Di jalanan ini pula aku berkenalan dengan seorang hamba Tuhan, aku diambilnya dan di suruh untuk tinggal bersamanya. Aku bersyukur aku disekolahkan kembali oleh hamba Tuhan ini, sehingga aku tamat SMK. Selama tiga tahun aku tinggal di rumah hamba Tuhan ini, di sinilah aku dididik dan didisiplin. Hamba Tuhan ini adalah seorang gembala sidang di Gereja Kristen Oikumene Indonesia (GKOI) Pondok Aren yang bernama Pdt. Haposan Hutapea. Setelah tamat SMK, aku dianjurkan pak Hutapea ini, untuk melanjutkan kuliah di sekolah Teologia, tapi pada saat itu aku menolak tawaran tersebut.


Selanjutnya pak Hutapea ini memasukkan aku ke Yasindo untuk bekerja di workshop Yasindo. Satu tahun aku berada di asrama Yasindo, semua kegiatan aku ikuti, aku dididik dan diarahkan untuk menatap masa depan yang lebih baik, dan juga di sini aku dituntun untuk mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Setelah melihat anak-anak binaan Yasindo di sekolahkan di sekolah Alkitab maupun Sekolah Tinggi Theologia, timbul di dalam pikiranku untuk kuliah juga di sekolah Theologia. Aku sampaikan keinginanku ini kepada Pak Toni (Alm), dan beliau meresponi dengan positif. Kemudian pak Toni mengirimkan aku ke STT Tiranus Bandung, sampai akhirnya aku mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen (SPAK). Seluruh biaya perkuliahanku ditanggung oleh Yasindo. Aku bersyukur, aku boleh di sekolahkan oleh Yasindo, padahal aku bukanlah seorang narapidana, sementara Yasindo hanya diperuntukkan untuk mantan narapidana, semua ini berkat kasih Tuhan Yesus Kristus kepadaku.


Setelah menyelesaikan pendidikanku di Tiranus Bandung, aku berangkat ke Kalimantan Barat untuk melayani jemaat Tuhan di sana. Selama 3 bulan aku membantu perintisan di Pos PI Gereja Isa Almasih Serakim. Tak lama kemudian aku bertemu dengan gembala sidang Gereja Oikumene Meliau, kab Sanggau dan melayani disana sampai sekarang sudah 14 bulan. Di sini aku melayani khusus di bidang sekolah minggu dan membantu gembala sidang di dalam pelayanan orang dewasa. Dalam menggarap pelayanan sekolah minggu yang terdiri dari anak-anak Katolik dan Kristen Protestan aku di bantu seorang mahasiswa Theologi.


Puji Tuhan, sekarang ada kabar gembira dari Kalimantan, anak Yasindo bertambah satu lagi, yaitu Desmond Dame Sitompul dengan sehat. Semoga dengan adanya Desmond pelayanan kami semakin bersemangat. Tuhan Memberkati.


23 July 2009

Kesaksian ex YASINDO - Pdt. Janter Manik

Pdt. Janter Manik

Gembala Sidang GEREJA ISA ALMASIH

JEMONGKO – Kalbar.


Dari Terminal Pondok Gede

Menuju Terminal Tuhan.


Sebelum Terpanggil (nikmatnya hidup duniawi).


Saya dilahirkan sebagai anak pertama dari enam bersaudara dalam sebuah keluarga Katolik. Namun nilai-nilai kekristenan tidak pernah mewarnai kehidupan keluarga kami. Keluarga kami adalah keluarga yang berantakan dan tidak mampu. Ayah saya hanyalah seorang supir angkutan umum. Setiap pulang dari pekerjaannya pasti dalam keadaan mabuk. Sementara ibu kami, adalah ibu rumah tangga biasa. Kebiasaan orang tua kami yang sudah mendarah daging semakin memperparah suasana rumah tempat kami bernaung, omelan dan pukulan sudah menjadi hal yang biasa kami alami. Perhatian dari bapa dan ibu kepada anak-anaknya boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Suasana rumah pada saat itu, sungguh-sungguh menjadi neraka bagi kami, khususnya bagiku.

Hari lepas hari, aku hidup dalam suasana seperti itu, akibatnya sekolah bukan lagi prioritas bagiku. Setelah semakin besar, aku mulai berpikir untuk mencari uang. Timbul dalam benakku pada saat itu, bagaimana kalau aku bekerja untuk mendapatkan uang? Setelah aku membulatkan tekad, aku mulai mencari pekerjaan. Pekerjaan pertamaku pada saat itu, menjadi kernet mobil angkutan umum. Penghasilan yang aku dapatkan mencapai Rp 30.000 sampai Rp 80.000 perhari, suatu penghasilan yang cukup besar bagiku pada saat itu . Namun karena aku merasa mendapat uang itu begitu gampang, maka uang yang aku peroleh setiap hari habis begitu saja tanpa ada artinya, aku menjadi lupa diri. Uang penghasilan ini tidak aku gunakan untuk keperluan yang benar. Artinya aku memakai uang itu untuk kesenangan duniawi dan berfoya-foya. Saat itu aku benar-benar merasakan bahwa hidup ini begitu nikmat sekali. Mulai saat itulah, aku menjadi duplikat ayahku yang suka mabuk- mabukan, main judi bahkan main perempuan.

Untuk tetap menjadi kernet angkutan kota, aku merasa tidak puas. Di kemudian hari aku mengurus SIM untuk menjadi sopir. Setelah mendapat SIM A pekerjaanku meningkat dengan membawa mobil Koasi jurusan Pondok Gede. Bekerja sebagai sopir tidak mengubahku menjadi orang yang baik malah seebaliknya, dengan uang yang semakin besar, hidupku semakin menjadi-jadi. Semua penghasilan aku gunakan untuk bermain perempuan, main judi dan mabuk-mabukan. Tiap malam aku bergadang di Terminal Pondok Gede untuk mencari perempuan malam dan bermabuk-mabukan bersama teman-teman satu profesiku.


Keluar masuk penjara.


Aku tidak pernah berpikir hidup mendekam di dalam penjara, namun perjalanan hidupku mengantarkanku untuk bersentuhan dengan “Hotel Prodeo”. Pada tahun 1994 ketika aku sedang menjalankan tugasku untuk mencari penumpang, aku mengalami kecelakaan lalu lintas dengan menabrak 3 orang di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Peristiwa inilah yang akhirnya membawaku mendekam di LP Pondok Bambu Jakarta Tirnur. Kejadian ini tidak membuatku introspeksi diri untuk menjadi lebih baik. Setelah aku masuk Rutan Pondok Bambu, aku semakin haus akan uang. Aku tak segan-segan berlaku kasar kepada sesama napi untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Memeras uang teman - teman sepenjara, adalah pekerjaanku sehari-hari. Jika aku tidak mendapatkan apa yang aku cari, aku tidak segan-segan memukuli mereka.

Persidangan begitu lama, sampai 9 kali belum tuntas juga, membuat aku semakin frustasi dan brutal. Kelelahan fisik dan mental, berakibat kepada teman-teman di dalam penjara. Mereka menjadi pelampiasan amarahku. Sering kali setelah kembali dari persidangan aku memukuli orang-orang dalam kamarku tanpa sebab yang pasti.

Dalam sidang yang ke 10 perkaraku diputuskan, dan aku dijatuhi hukuman 3 tahun 6 bulan. Tidak berapa lama dari putusan Hakim, aku dipindahkan ke LP Pemuda Tangerang kelas II A Jawa Barat. Di LP ini kejahatanku semakin bertambah, di tempat ini bukan lagi sekedar memeras sesama napi, tetapi napi itu sendiri aku setubuhi, dengan melakukan sodomi. Aku hidup layaknya, seperti Sodom dan Gomora.

Pada tanggal 4 Nopember 1996 aku bebas dari penjara. Setelah aku bebas dari penjara aku tidak punya keinginan untuk bertobat. Penjara tidak membuat aku menjadi lebih baik. Dari LP Tangerang, aku langsung menuju terminal Pondok Gede menemui teman-teman lama. Pesta penyambutan dilakukan untuk menyambut kebebasanku. Mereka menyuguhi aku minuman sampai mabuk, main judi serta menghabiskan malam bersama pelacur. Untuk mencari uang kembali aku menyetir angkutan umum di malam hari. Hidupku rasanya semakin indah, dengan duit yang kudapat, aku bisa melakukan apa saja di luar terali besi. Setelah aku bekerja beberapa hari, aku mengalami suatu penyakit. Aku tidak pergi ke dokter untuk berobat, tetapi ke dukun sekalian minta penjaga diri (diisi dengan ilmu kekebalan tubuh) untuk mencegah hal-hal yang buruk yang akan menimpa diriku. Inilah kenikmatan duniawi yang aku rasakan, saat itu aku tidak ingat Tuhan sama sekali.

Pada tanggal 5 Agustus 1997 lagi-lagi nasib sial menimpaku, ketika aku sedang mengendarai angkutan yang aku bawa, ada penumpangku yang terjatuh dan terlindas roda mobil. Kejadiannya di daerah Cililitan Jakarta Timur. Peristiwa ini mengantarkanku untuk kedua kalinya masuk penjara. Sama seperti kejadian pertama, LP Pondok Bambu menjadi tempatku menunggu vonis. Setelah sidang hakim memutuskan 2 tahun 6 bulan penjara. Aku dikirim ke LP Pemuda Tangerang Jawa Barat. Di sini, kembali aku memukuli dan memeras uang para tahanan, dan menyodomi mereka. Akibat perbuatanku ini, aku dipindahkan ke LP yang lebih besar, ke LP Dewasa Kelas IA Tangerang Jawa Barat.


Awal Pertobatan (Mengenal Yesus).


Setelah 1 tahun aku menjadi penghuni LP Dewasa Pria Tangerang, aku mulai aktif beribadah ke Gereja untuk mendengarkan Firman Tuhan. Dari ibadah dan konseling yang rutin ku ikuti di dalam LP inilah aku mulai berubah kearah yang lebih baik, yang selama ini tidak pernah aku lakukan ketika aku berada di luar. Di Lembaga Pemasyarakatan inilah aku mulai menyadari siapa diriku. Lewat pelayanan di penjara ini pula, aku mengambil tekad untuk meninggalkan semua perbuatan lama, dan mengambil keputusan untuk menjadi murid Kristus yang sungguh-sungguh.


Panggilan Melayani.


Untuk yang kedua kali aku meninggalkan penjara menuju dunia yang bebas. Puji Tuhan, ketika keluar dari penjara yang ke dua ini, aku tidak lagi pergi ke terminal Pondok Gede tetapi aku pergi ke terminalnya Tuhan yang bernama YASINDO, yaitu suatu tempat pembentukan anak - anak brandal, khususnya mereka yang keluar dari penjara untuk dididik dan diubahkan menjadi anak Tuhan serta dipersiapkan ke ladang Tuhan, bagi mereka yang terpanggil untuk menjadi hamba Tuhan. Sesampainya, aku di asrama YASINDO (Yayasan Anugerah Sejahtera Indonesia) aku dididik dan dipersiapkan untuk menjadi manusia seutuhnya. Puji Tuhan, disanalah aku mengalami jamahan Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Sekalipun aku hanya 3 bulan di asrama, tapi aku merasakan betapa dahsyatnya pertolongan Tuhan dalam hidupku.

Setelah 3 bulan di YASINDO, aku dikirim mengikuti pendidikan di KBTC (Ketileng Bible Training Centre) selama 1 tahun. Puji Tuhan sekalipun menurut ukuran manusia aku tidak layak, karena pendidikanku yang tidak tamat Sekolah Dasar, dan juga waktu yang terlalu singkat berada di Yasindo untuk dibina, tetapi aku berhasil mengikuti seluruh pembinaan di KBTC Semarang. Jika Tuhan yang memanggil, maka Dialah yang akan memampukan. Itulah prinsip hidupku saat itu. Di KBTC inilah aku mempersiapkan diri untuk menjadi hamba Tuhan yang siap di utus kemanapun Tuhan kehendaki.

Setelah mengalami pengalaman bersama Tuhan, aku dapat mengatakan bahwa di dalam Tuhan jauh lebih nikmat dan pada kenikmatan duniawi yang pernah aku alami.


Terjun di ladang Tuhan.


Setelah selesai studi di KBTC Semarang, aku di utus ke Kalimantan Barat. Awalnya aku ditempatkan di Sekretariat alumni di Pontianak. Dari sana aku di utus ke Gereja Isa Almasih Pal XX Ngabang. sebagai pembantu gembala sidang, melayani pos PI dan sekolah Minggu.

Selesai praktek di GIA Pal XX, aku diutus oleh Sinode untuk meneruskan pelayanan di GIA Jemongko. Awal pelayanan GIA Jemongko ini dirintis oleh alumni KBTC Semarang yaitu Bp. Pdt. Fernando Siregar. Beliau berhasil membangun gereja walau dalam bentuk bangunan semi permanen.

Saat ini aku yang dulunya tidak pernah berpikir menjadi hamba Tuhan, Tuhan percayakan untuk meneruskan pelayanan tersebut sebagai gembala sidang. Sembilan tahun 6 bulan aku telah dipercaya Tuhan menjadi gembala di tempat ini dengan jumlah jemaat 10 KK. Tantangan dan pergumulan berupa penyembah-penyembah berhala dan perdukunan masih meraja lela di tempat ini, namun aku tidak pernah mundur dari ladang Tuhan. Inilah yang terus mendorongku untuk tetap setia melayani di desa ini.


Demikianlah riwayat pertobatan dan panggilan pelayananku, terima kasih.


Tuhan Memberkati.


08 July 2009

Kesaksian ex Yasindo - Pdt. Zulkarnain Syarief


Kesaksian dari : Pdt. Zulkarnain Syarief

Gembala Sidang Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia

Pontianak, Kalimantan Barat


“Hidup Yang Diubahkan Tuhan”


Saya dilahirkan sebagai anak ke-3 dari 6 bersaudara dan dibesarkan dikota Jakarta. Ketika saya memasuki usia remaja, karena kesibukan orang tua dan pengaruh lingkungan, saya mulai terlibat dengan kenakalan remaja (perkelahian, pencurian, narkotika), akibatnya saya seringkali berurusan dengan polisi.

Ada 2 peristiwa yang membawa saya masuk ke dalam penjara. Yang pertama tahun 1987 saya dipenjara karena kasus UUN Pasal 23 (Narkotika/Ganja), karena ada bantuan dari orangtua saya, hukuman saya menjadi ringan, saya divonis 8 bulan di Rutan Pondok Bambu.

Sebebas dari penjara, kebiasaan menggunakan narkotika tidak hilang, bahkan semakin meningkat, dari mengkonsumsi Ganja sampai Morphine dengan suntikan.

Untuk menutupi kebutuhan narkotik yang cukup mahal, saya mulai melakukan kejahatan. Dimulai dari kejahatan kecil sampai skala yang lebih besar. Saya dengan beberapa teman terlibat dalam kasus perampokan. Beberapa kali kami lolos dari sergapan polisi, tetapi sepandai – pandainya tupai melompat akhirnya pasti jatuh juga. Akhirnya saya tertangkap polisi dan masuk penjara pada tahun 1989 di LP Klas I Cipinang. Kasus saya pada waktu itu adalah pasal 365 (Perampokan), 351 (Penganiayaan) disertai dengan pemberatan UUD (Undang – Undang Darurat) jenis senjata api/pistol.

Hari – hari di penjara sebelum vonis saya lalui dengan perasaan takut. Menjelang vonis saya menjadi frustasi, akibatnya saya menjadi brutal. Sehingga setiap pulang dari persidangan ke blok/sel, saya melampiaskan rasa kesal dan frustasi saya kepada sesama narapidana yang ada di sel, saya memukuli dan menyiksa mereka dan saya menjadi penguasa kecil di dalam sel.

Perasaan ketakutan ini terus menyiksa saya karena menurut desas – desus dari sesama tahanan, bahwa hukuman saya akan sangat berat, mungkin 10 tahun.

Sampai pada suatu malam saat saya sedang bersantai, saya memperhatikan seseorang yang bernama Roni. Roni terlibat kasus pasal 340 (Pembunuhan) dan sudah divonis 20 tahun penjara, tetapi dia begitu tenang, saya mulai menyelidiki dia, apa yang menjadi rahasia ketenangannya. Ternyata ketenangan Roni itu didapatkan dari sebuah buku warna biru muda (dulu saya tidak tahu kalau itu adalah Alkitab Perjanjian Baru dari Gideon).

Sebagai penguasa kecil dalam sel penjara, saya punya kuasa untuk mengambil apa yang dimiliki oleh sesama narapidana, termasuk buku biru yang dimiliki oleh Roni saya ambil untuk saya baca (lembaran kertas dari buku ini seringkali dipergunakan untuk melinting rokok, dari sisa – sisa tembakau).

Ketika saya membaca buku (Alkitab) itu, yang timbul dari pikiran saya adalah penyangkalan demi penyangkalan atas isi buku itu. Tetapi yang mengherankan ada suatu gerakan yang membuat hati saya ingin terus membacanya, dari Matius sampai Wahyu saya baca sampai habis. Sampai saat saya membaca ayat dalam Wahyu 3:19 “Barangsiapa Ku kasihi, ia Ku tegor dan Ku hajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah !”, pada saat saya membaca ayat itu ada suara yang berwibawa dengan penuh kasih berkata – kata. Pada waktu itu saya belum sadar kalau itu adalah Tuhan, sesaat saya dibawa kepada perenungan mengenai kehidupan saya selama ini, sungguh saya adalah orang yang berdosa, tiba – tiba saya jadi takut mati karena dosa saya sangat banyak, tetapi ayat – ayat yang saya baca di dalam Alkitab sangat sederhana sekali, apabila kita mau selamat cukup kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka dosa-dosa kita diampuni dan mendapat hidup yang kekal. Roma 10:9-10 “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Bapa telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”.

Sampai tiba masa tuntutan hukuman dibacakan, waktu itu Jaksa menuntut 7 tahun penjara. Saya pasrah dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, agar Dia yang mengatur jalan hidupku.

Saat persidangan terakhir menjelang vonis saya terus berdoa agar Tuhan menyatakan kuasanya. “Yesus kalau memang benar Engkau adalah Tuhan yang hidup dan menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia adalah ciptaanMu, tentunya tidak sulit membuat Jaksa menuntut hukuman yang ringan serta Panitera mencatatnya dan selanjutnya Hakim mengetok palu menetapkan vonis saya, saya ingin hukuman saya 3 tahun saja. Kalau itu terjadi maka aku akan menjadi pengikutMu. Dan mujizat Tuhan terjadi, Dia menjawab tantangan saya, saya minta agar hukuman saya 3 tahun saja, luar biasanya Tuhan Yesus membuat hukuman saya 2 tahun, sebagai konsekuensinya saya harus mengikut Dia dan melayaniNya.

Hari – hari yang saya lalui di penjara setelah saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, penuh dengan sukacita. Seperti ada sesuatu yang baru di dalam hati dan pikiran saya (rupanya inilah yang dinamakan lahir baru). Kerinduan untuk mencari Tuhan terus timbul didalam hati saya, saya mulai rajin berdoa, membaca Alkitab dan mengikuti setiap ibadah yang diselenggarakan di LP (saya sangat bersyukur karena disini setiap hari ada ibadah). Saya berjumpa dengan Bapak Toni Taniara, Ibu Selvi Handoko dan Ibu LF. Simanjuntak. Mereka melayani saya sampai akhirnya saya benar-benar paham dengan ajaran Tuhan Yesus.

Menjelang bebas sedikit ada keraguan di dalam hati saya, harus kemanakah saya nanti? Kalau kembali kepada keadaan semula pasti penjara menanti saya kembali. Tetapi pertanyaan itu tetap timbul di dalam pikiran saya, kemanakah saya harus pergi ? Untuk beberapa saat lamanya saya ditampung di PD. Yosua yang terus memotivasi saya untuk melayani Tuhan.

Panggilan untuk melayani Tuhan semakin kuat di dalam diri saya dan untuk itu saya perlu diperlengkapi dengan sekolah Alkitab. Saya terus berdoa untuk itu, dan lewat YASINDO Tuhan menjawab doa saya, YASINDO mensponsori saya untuk sekolah Alkitab di KBTC (Ketileng Bible Training Centre) Semarang pada tahun 1991 selama 6 bulan.

Selesai dari sekolah Alkitab pada th 1992, saya di utus untuk melayani Tuhan di Kalimantan Barat. Saya melayani di pedalaman, membantu gereja – gereja yang ada disana.

Daerah pelayanan yang saya layani adalah :

1. Desa Dagog, Kec. Karangan Mempawah Hulu, Kab. Landak th 1992-1995 dibawah naungan GGPI (Gereja Gerakan Pentakosta Indonesia), merintis beberapa daerah lain:

- Desa Tempak, Kec. Menyuke, Kab. Landak.

- Desa Mangun, Kec. Sompak, Kab. Landak.

- Desa Pojok, Kec. Sompak, Kab. Landak.

2. Kembali ke Jakarta dan melayani di Pasar Rebo, Pekayon – Bekasi tahun 1995 – 1997 dibawah naungan GBI (Gereja Bethel Indonesia).

3. Tahun 1998 kembali ke Kalimantan Barat, dipercaya untuk :

- Membuka Perwakilan dari Yayasan Bahtera Hayat di Pontianak.

- Membuka PD. PELMA (Persekutuan Doa Pelajar dan Mahasiswa).

- Mengajar agama di SMUN 3 dan SMK-SMU Koperasi Pontianak th 1998 – 2001.

4. Tahun 2000 dipercaya untuk :

- Membuka perwakilan YASINDO (Yayasan Anugerah Sejahtera Indonesia) di Kalimantan Barat untuk melayani penjara-penjara yang ada.

- Menjadi Ketua Gerakan Transformasi Propinsi Kalimantan Barat.

5. Th 2004 – 2006 pelayanan Pastoral di GRDSB (Gereja Rumah Doa Segala Bangsa).

6. Th 2007 merintis GSPDI (Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia) di Pontianak dan menggembalakan jemaat sampai dengan hari ini.

7. Th 2009 sebagai wakil ketua PGPI (Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia).

Inilah kilas balik hidup saya dan semuanya ini karena kasih dan anugerah Tuhan Yesus di dalam hidup saya, dari sampah masyarakat saya diubahkan Tuhan menjadi Terang dan Garam dunia (dari orang yang jahat menjadi seorang yang melayani Tuhan). Biarlah kiranya kesaksian saya ini menjadi berkat bagi saudara – saudara sekalian. Tuhan Yesus memberkati...!


30 June 2009

Kesaksian ex YASINDO - Pdt. Eslo Laudin Manik

Saya Pdt. Eslo Laudin Manik, S.Th yang sekarang melayani di salah satu lembaga pelayanan media (LTWR). Sebelum saya melayani, hidup saya penuh dengan dosa. Saya anak kesembilan dari 12 bersaudara. Pada tahun 1986 setelah lulus dari SMEA saya merantau ke Jakarta dengan maksud supaya di Jakarta nanti berubah sikap hidup. Maksud hati berubah ternyata hidup saya di Jakarta semakin brutal. Pada tahun 1988 saya menjadi anak jalanan dan MONAS adalah tempat saya mencari sesuap nasi. Pekerjaan yang saya lakukan di sana adalah berdagang, parkir dan hidup bergaul siang dan malam dengan teman-teman senasib di sana. Perkelahian antar suku, kelompok kerap kali saya lakukan. Setiap hari ketakutan karena selalu ada musuh. Hidup tidak tenang, kesepian, merasa rendah diri kalau berjumpa dengan orang yang hidupnya saya anggap orang baik-baik. Minum-minuman keras, judi, dunia malam bahkan narkoba sudah saya jalani. Hidup saya semakin terpuruk. Setiap hari saya jalani hidup saya dengan kebosanan, kebencian dan putus asa. Saya membenci orang tua, keluarga yang ada di Jakarta karena saya anggap mereka tidak memperdulikan saya. Saya menjauh dari mereka dan memilih teman-teman yang senasib dan mencari kesenangan dunia. Apa yang saya cari tidak saya ketemukan, justru saya sering terlibat dengan perkelahian. Pernah suatu waktu saya berkelahi dengan orang Betawi dan saya dikeroyok hampir terbunuh. Saya bersembunyi di WC dan di sana saya berdoa kepada Tuhan. Doa saya di jawab oleh Tuhan, karena saya luput dari mereka. Untuk sementara saya bersyukur pada Tuhan, tetap selanjutnya lupa lagi. Tuhan ijinkan lagi saya berkelahi dengan geng Taman Ria di Monas kumpulan arek-arek Surabaya, waktu itupun saya hampir terbunuh dan membunuh. Keberanian saya untuk tempur memang sudah semenjak anak-anak. Nah! Keadaan seperti itulah membuat saya selalu ketakutan, untuk mengatasi ketakutan itu minuman dan narkoba adalah satu-satunya jalan. Tetapi ketika pengaruh minuman berkurang maka ketakutan selalu muncul. Demikianlah hidup saya jalani hingga tahun 1992 awal.
Pada awal tahun 1991, saya pernah di Injili oleh dua orang gadis dari LPMI dan mereka menginjili saya memakai 4 hukum Rohani. Waktu itu saya bersedia di Injili karena saya terjepit, dimana Polisi menyergap kami yang sedang bermain judi di depan JAM besar yang waktu itu masih ada JAM besar di Lapangan Monas. Saya menyelamatkan diri dan membaur dengan masyarakat pengunjung, dan waktu itu adalah kedua gadis yang menyapa saya dan menawarkan 4 hukum Rohani. Saya memperhatikan teman-teman judi saya ditangkap dan mata Polisi mengarah kepada saya, tetapi mereka tidak berani ke arah saya karena pada waktu itu saya di doakan menerima Tuhan Yesus. Setelah berdoa, saya lihat Polisi pergi membawa teman-teman saya, dan saya merasa bersyukur karena diselamatkan oleh kedua gadis dari LPMI tersebut. Memang ketika saya di doakan saya juga sungguh-sungguh meminta kepada Tuhan perubahan hidup. Mulai saat itu, dalam diri saya terjadi keanehan. Sering sekali saya mimpi tentang bayi Yesus hingga pada suatu saat saya dituntun dan mengenal seorang Pdt. Gozal. Saya ikut Persekutuan setiap hari Rabu dan mulai dari saat itu saya mulai belajar berdoa. Tuhan terus menuntun saya dan memperkenalkan kepada saya Ibu Yono (beliau pelayanan di Penjara bergabung dengan YASINDO. Ibu Yono menawarkan kepada saya bimbingan rohani di Ungaran di TIM Pelayanan Kasih. Saya diantar ke TIM Pelayanan Kasih. Selama 3 bulan saya digembleng di sana Firman Tuhan dan disiplin Rohani. Saya mulai merasakan pimpinan Tuhan. Setelah tiga bulan saya di sekolahkan di Seminari Alkitab Maranatha. Ibu Yono meminta YASINDO mensponsori kuliah saya. Selama 2 tahun saya di SEMINARI ALKITAB MARANATA, saya meminta kepada Bapak Toni Taniara pimpinan Yasindo waktu itu untuk pindah ke STT lain, karena saya ingin sekolah sungguhan karena di Seminari Alkitab Maranatha hanya program D3. Saya berpikir kalau sekolah sekalian mengambil Program S1. Oleh Pak Toni di ijinkan, sehingga saya pindah ke STT Simpson. Pada tahun 1998, saya lulus dari STT Simpson, kemudian saya menikah dengan kakak tingkat saya di STT Simpson, lalu kami di utus perintisa di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) di Cirebon. Selama 7 tahun kami menggembalakan di sana, dan yang akhirnya saya terpanggil pelayanan di LTWR sebuah LSM yang bergerak dibidang pelayanan media. Saya bergabung di sana mulai tahun 2005 hingga saat ini. Di LTWR bidang pelayanan yang saya lakukan adalah membuat Program Radio khususnya Program Young Parents, Program Bijak dan Program Terapi Jiwa (untuk korban Tsunami) dan Membuat Naskah renungan harian untuk keluarga.
Tuhan yang maha pengasih mengangkat saya dari lumpur dosa, menguduskan saya di STT. Tuhan memakai YASINDO membimbing saya selama 6 Tahun di STT. Biaya kuliah dan semuanya di support dari YASINDO. Terimakasih saya ucapkan kepada Tuhan dan YASINDO yang telah mendidik saya hingga saya dapat melayani dan menjadi kekasih Tuhan. Isteri saya bernama Ratmini Veronika, S.Th dan Putra saya yang pertama kelas 5 SD bernama Doulos,yang kedua Putri bernama Laura Eunike Manik sekarang TK B. Inilah perjalanan hidup saya karena kasih Tuhan. Saya ucapkan terimakasih kepada Almarhum Bapak Toni Taniara dan kepada semua Staf YASINDO. Kiranya Tuhan memberkati pelayanan YASINDO dan menjadi berkat bagi anak-anak NAPI serta anak-anak yang tertolak, Tuhan memberkati.