28 August 2009

KESAKSIAN ex Yasindo - NELSON SITOMPUL S.P.A.K.

NELSON SITOMPUL S.P.A.K.

GEREJA OIKUMENE Meliau, Kalbar.


“HIDUP DALAM TUHAN YESUS MENJADI BERARTI.”


Aku berasal dari keluarga bahagia dengan delapan bersaudara, 4 laki-laki dan 4 perempuan, dan kami semua bersekolah. Awal kehancuran keluarga kami terjadi pada tahun 1988, di awali dengan sakitnya mama. Segala usaha telah dilakukan keluarga dengan membawa berobat kerumah sakit di Medan, Jakarta sampai ke Singapura, namun kesehatan mama tak kunjung sembuh, sampai akhirnya mama meninggalkan kami semua di akhir tahun 1989.


Sepeninggalnya mama kami, keluarga yang tadinya hidup harmonis berubah menjadi berantakan. Kakak- kakakku semua meninggalkan rumah, dan tinggallah aku beserta adikku yang tetap menjadi penghuni rumah kami. Tidak berapa lama setelah kejadian itu, aku beserta adikkupun meninggalkan kampung halaman, karena saudara dari pihak ibu membawa kami ke Jakarta. Di Jakarta kami disekolahkan hingga tamat Sekolah Menengah Pertama.


Kebebasan yang aku alami pada saat aku masih berada bersama orang tuaku, tidak lagi kudapatkan di rumah saudaraku. Saat itu aku memberontak, sampai pada akhirnya aku meninggalkan rumah saudara secara diam-diam dan hidup di jalanan untuk mempertahankan kelangsungan hidupku, akibatnya selama satu tahun aku menjadi gelandangan.


Di jalanan ini pula aku berkenalan dengan seorang hamba Tuhan, aku diambilnya dan di suruh untuk tinggal bersamanya. Aku bersyukur aku disekolahkan kembali oleh hamba Tuhan ini, sehingga aku tamat SMK. Selama tiga tahun aku tinggal di rumah hamba Tuhan ini, di sinilah aku dididik dan didisiplin. Hamba Tuhan ini adalah seorang gembala sidang di Gereja Kristen Oikumene Indonesia (GKOI) Pondok Aren yang bernama Pdt. Haposan Hutapea. Setelah tamat SMK, aku dianjurkan pak Hutapea ini, untuk melanjutkan kuliah di sekolah Teologia, tapi pada saat itu aku menolak tawaran tersebut.


Selanjutnya pak Hutapea ini memasukkan aku ke Yasindo untuk bekerja di workshop Yasindo. Satu tahun aku berada di asrama Yasindo, semua kegiatan aku ikuti, aku dididik dan diarahkan untuk menatap masa depan yang lebih baik, dan juga di sini aku dituntun untuk mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Setelah melihat anak-anak binaan Yasindo di sekolahkan di sekolah Alkitab maupun Sekolah Tinggi Theologia, timbul di dalam pikiranku untuk kuliah juga di sekolah Theologia. Aku sampaikan keinginanku ini kepada Pak Toni (Alm), dan beliau meresponi dengan positif. Kemudian pak Toni mengirimkan aku ke STT Tiranus Bandung, sampai akhirnya aku mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen (SPAK). Seluruh biaya perkuliahanku ditanggung oleh Yasindo. Aku bersyukur, aku boleh di sekolahkan oleh Yasindo, padahal aku bukanlah seorang narapidana, sementara Yasindo hanya diperuntukkan untuk mantan narapidana, semua ini berkat kasih Tuhan Yesus Kristus kepadaku.


Setelah menyelesaikan pendidikanku di Tiranus Bandung, aku berangkat ke Kalimantan Barat untuk melayani jemaat Tuhan di sana. Selama 3 bulan aku membantu perintisan di Pos PI Gereja Isa Almasih Serakim. Tak lama kemudian aku bertemu dengan gembala sidang Gereja Oikumene Meliau, kab Sanggau dan melayani disana sampai sekarang sudah 14 bulan. Di sini aku melayani khusus di bidang sekolah minggu dan membantu gembala sidang di dalam pelayanan orang dewasa. Dalam menggarap pelayanan sekolah minggu yang terdiri dari anak-anak Katolik dan Kristen Protestan aku di bantu seorang mahasiswa Theologi.


Puji Tuhan, sekarang ada kabar gembira dari Kalimantan, anak Yasindo bertambah satu lagi, yaitu Desmond Dame Sitompul dengan sehat. Semoga dengan adanya Desmond pelayanan kami semakin bersemangat. Tuhan Memberkati.


No comments:

Post a Comment