28 August 2009

Kesaksian ex YASINDO - Pdt. Yoel Malau S.Th, M.Miss

Pdt. Yoel M. Malau S. Th, M.Miss

Gembala Sidang GEREJA JEMAAT KRISTUS INDONESIA Mojosari, Jatim.


KISAH PANGGILANKU MENJADI HAMBA TUHAN.


Sebelum saya bertobat, saya hidup dalam keputus asaan, hidup tanpa pengharapan dan merasa hidup tidak ada artinya. Hal ini yang menyebabkan saya terjerumus dalam berbagai kejahatan.


Dalam pelarian dari rumah oom saya di Cijantung, Jakarta Timur, karena mencari sejumlah uang, saya berjumpa dengan kawan-kawan yang juga hidup tanpa pengharapan. Dan kami tinggal dirumah susun Cipinang, Jakarta.


Tuhan begitu baik. Diawali niat yang tidak baik, oleh karena ajakan teman, yaitu Pdt. Laudin Manik S.Th, anak binaan Yasindo, penyiar Radio LTWR Batu, Malang (waktu itu beliau belum bertobat), mengajak saya ke Persekutuan Doa untuk mencuri uang kolekte dari kantong persembahan, karena menurut teman saya, persekutuan tersebut adalah persekutuan orang-orang kaya. Dan saya disarankan pura-pura memasukkan persembahan dan kemudian menggenggam beberapa lembar uang persembahan lalu menarik tangan saya dari kantong persembahan, demikian Laudin Manik menyarankan.


Tetapi puji Tuhan. Niat untuk mencuri persembahan tidak terlaksana. Malah ditempat itulah Tuhan menjamah dan melawat saya. Saya merasakan perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Dan saat itu ada kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan. Kini hidupku telah berubah dan tidak lama kemudian, saya menyerahkan diri untuk dibaptis.


Awal panggilan untuk menjadi hambaNya terjadi di Persekutuan Injaya, segitiga Senen, lewat nubuatan Rev John Hartman yang pada waktu itu beliau menyampaikan Firman, saat itulah saya merasakan panggilan Tuhan dalam diri saya.


Melalui ibu Yono, saya bersama Laudin Manik dan Andreas Sirait diantar ke Sekolah Alkitab di Semarang. Pada waktu kami sampai ditempat tujuan, betapa kecewanya kami, karena ternyata kami tidak diantar ke sekolah Alkitab, tetapi ketempat penampungan eks narapidana yaitu Yayasan Cinta Kasih Bangsa di Ungaran pimpinan Bpk Arif Wibisono alm.


Awalnya kami memberontak, tetapi Tuhan meyakinkan kami, sekalipun kami bukan eks napi, tetapi perbuatan kami seperti eks napi, oleh sebab itu, sebelum masuk sekolah Alkitab kami harus dibentuk terlebih dahulu di YCKB. Puji Tuhan, setelah 4 bulan kami dinyatakan lulus dan akhirnya kami meneruskan pendidikan di STT Tawangmangu.


Pergumulan ternyata belum selesai. Di STT Tawangmangu setiap hari Sabtu (mestinya mahasiswa libur) saya harus kerja bakti karena tidak bisa bayar uang sekolah. Awalnya saya putus asa dan merencanakan pulang ke Jakarta karena tidak ada sponsor.


Puji Tuhan pertolonganNya tidak pernah terlambat. Ditengah-tengah keputus asaan saya, saya dipanggil bagian keuangan STT Tawangmangu. Hati saya kembali berdebar-debar, pasti saya dipanggil karena belum bayar SPP dan akan ditanya siapa yang mensponsori saya. Ternyata ketakutan saya berubah menjadi sukacita, sebab saya disodorkan wesel berisi uang Rp 210.000, dan yang membuat saya kaget, sipengirim yang bernama Bapak Toni Taniara belum saya kenal. Dan setiap bulan, beliau mengirim uang kepada saya.


Pada bulan Desember, masa libur mahasiswa, saya ke Jakarta untuk menemui Bapak Toni Taniara (sekarang telah almarhum), pada waktu itu beliau berkantor di Kav Polri, Jelambar, Jakarta Barat. Itulah awal pertemuan saya dengan Bpk Toni Taniara alm yang juga banyak memotivasi hidup saya, bagaimana menjadi hamba Tuhan yang benar. Dan sekarang saya sedang merintis pelayanan di Sidoarjo dan Mojosari, Jawa Timur.


Setelah sekian lama saya menjadi pengerja, dalam pimpinan Tuhan saya merasa sudah waktunya untuk merintis pelayanan dan menggembalakan jemaat. Sayapun bergabung dengan Gereja Jemaat Kristus Indonesia (GJKI)

GJKI tidak mencampuri dan membiayai kebutuhan gereja lokal, sehingga kondisi ini sangat berat bagi perintisan jemaat seperti kami. Puji Tuhan janji Tuhan selalu tepat.


Pada tanggal 2 Juli 2006, saya bersama istri ditahbiskan oleh hambaNya Pdt. Tan Chuan S.Th. MA, gembala GJKI “Pelangi Kasih” Watu Kencana, Bandung dan diutus membuka pelayanan perintisan jemaat di Jawa Timur. Kemudian kami segera memulai kebaktian perdana di Gempol Gunting, di rumah Bapak Sunadi, mertua saya yang dihadiri 11 orang. Saya, istri dan anak saya, bapak dan ibu mertua saya serta beberapa jemaat simpatisan.

23 September 2006, kami mengadakan kebaktian disalah satu rumah jemaat kami di Mojosari. Kebaktian tersebut dihadiri 10 jemaat. Oleh kemurahan Tuhan dalam 3 bulan jemaat bertambah menjadi 25 orang.


Januari 2007, seorang jemaat kami meminta untuk melayani di Bacangsari 40 km dari Mojosari. Awalnya kami merasa berat untuk melayani permintaan ini, sehubungan dengan GJKI “Apostolik Center”, Mojosari baru berdiri sementara kebutuhan dana bagi jemaat lokal belum terpenuhi apalagi untuk membuka pelayanan baru di Pos PI Bacangsari.


Pada waktu kami melakukan survey di tempat tersebut, hai saya dipenuhi dengan belas kasihan Allah. Masyarakat Bacangsari terdiri dari orang-orang miskin. Melihat kondisi yang seperti ini, saya langsung mengatakan “kami siap melayani”, tanpa mempertimbangkan lagi keadaan keuangan kami yang terbatas. Letih dan lelah itulah yang kami alami, menempuh 80 km pulang-pergi Mojosari – Bacangsari. Tapi melihat jiwa-jiwa terhilang yang datang kepada Yesus Kristus, hati kami berkobar-kobar. Keletihan berubah menjadi semangat baru dan ucapan syukur kepada Allah.


Dalam waktu 2 bulan, jemaat yang dimulai dengan 1 keluarga, berkembang menjadi 20 dewasa dan 15 anak-anak. Dengan bertambahnya jemaat ini, kami berencana mendirikan tempat ibadah. Rencana ini gagal, karena pihak-pihak tertentu menghentikan kegiatan ibadah di Bacangsari ini.


Tuhan tahu menghibur hambaNya. Pada tanggal 6 Mei 2007, GKJI “Apostolik Center” Mojosari mendapat izin untuk menggunakan gedung Gereja Oikumene Batalyon 503, Mojosari. Semua ini semata-mata karena kemurahan dan anugerah Tuhan. Dibalik airmata ada penghiburan Tuhan bagi hamba-hambaNya yang setia melayani.


Pergumulan kami saat ini adalah pendidikan anak-anak jemaat. Ekonomi jemaat sangat minim. Ada orang tua yang terpaksa menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bermutu seadanya tanpa pendidikan agama Kristen, asal biayanya murah. Kerinduan kami agar anak-anak jemaat kami minimal dapat dididik sampai jenjang SMU, sehingga anak-anak Tuhan dapat mengikuti perkembangan zaman yang makin maju dan modern.

Karena tempat ibadah kami di Batalyon 503, Mojosari culup jauh dari rumah-rumah jemaat, banyak yang kesulitan untuk datang beribadah. Beberapa orang malah tidak dapat datang karena tidak punya ongkos transportasi. Kami berdoa agar ada mobil yang dapat mengantar-jemput jemaat, sehingga mereka dapat beribadah.


Doa kami, kesaksian ini dapat menjadi berkat bagi Saudara-saudara yang mengasihi Tuhan.


Tuhan memberkati.


2 comments:

  1. Saya Fatimawati, saya menggunakan waktu ini untuk memperingatkan semua rekan saya INDONESIANS.Who yang telah terjadi di sekitar mencari pinjaman, Anda hanya harus berhati-hati. satu-satunya tempat dan perusahaan yang dapat menawarkan pinjaman Anda adalah QUALITYLOANFIRM. Saya mendapat pinjaman saya dari mereka. Mereka adalah satu-satunya pemberi pinjaman yang sah di internet. Lainnya semua pembohong, saya menghabiskan hampir 32 juta di tangan pemberi pinjaman palsu. Tapi qualityloan memberi saya mimpi saya kembali. Ini adalah alamat email yang sebenarnya mereka: qualityloanfirm@asia.com. Email pribadi saya sendiri: fatimatu.said99@gmail.com. Anda dapat berbicara dengan saya kapan saja Anda inginkan. Terima kasih semua untuk mendengarkan permintaan untuk saran saya. hati-hati

    ReplyDelete
  2. Halo, saya Ny. Sandra Ovia, pemberi pinjaman pribadi uang, apakah Anda berutang? Anda membutuhkan dorongan keuangan? pinjaman untuk membangun bisnis baru, untuk memenuhi tagihan Anda, memperluas bisnis Anda di tahun ini, renovasi rumah Anda dan kami juga memberikan pinjaman BITCOIN dengan suku bunga sangat rendah 2%. Anda dapat menghubungi kami melalui Email: (sandraovialoanfirm@gmail.com)
    Anda dipersilakan ke perusahaan pinjaman kami dan kami akan memberikan yang terbaik dari layanan kami.

    ReplyDelete